P. Athanasius Bame,OSA
SMA Katolik Villanova (selanjutnya SMAKVIL) merupakan sekolah Augustinian pertama di Papua dan beroperasi sejak Juli 2010. Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Ordo Santo Agustinus (YOSA) ini merupakan salah unit karya pelayanan pendidikan Ordo Santo Agustinus Vikariat “Christus Totus” Papua. SMAKVIL terletak di Kampung Susweni Manokwari Timur, Papua Barat, sebuah kampung yang berada di pinggir kota Manokwari. SMA ini sebagai satu-satunya Sekolah Menengah Atas di kota Manokwari yang menggunakan sistem pendidikan berpola asrama di mana sebagian besar muridnya berdomisili di asrama baik Asrama Putra Mendel maupun Asrama Putri St. Rita dan mengikuti kegiatan pembinaan yang dirancang dan ditawarkan oleh para pembina. Melalui sistem yang dianggap sangat efektif ini, sekolah ini menawarkan suatu pendidikan dan pembinaan manusia secara integral di mana aspek intelektual, emotional, sosial dan spiritual menjadi titik tolak dan tujuan pendidikan. Alasan dan motivasi utama dari pendirian lembaga pendidikan ini adalah kesadaran akan masalah-masalah di sektor pendidikan di Papua (kualitas, akses, manajemen, konflik sosio-kultural) yang berdampak langsung bagi generasi muda, keprihatinan akan sedikitnya lembaga pendidikan yang berkualitas di Papua, rendahnya mutu peserta didik yang bersaing di level selanjutnya, semangat pembangunan generasi muda Papua atau khususnya Orang Asli Papua (OAP), bentuk implementasi spiritualitas Ordo khususnya karya-apostolate pendidikan dan rekam jejak keberhasilan dan sejarah keterlibatan para Agustinian di bidang pelayanan pendidikan di Keuskupan Manokwari-Sorong. Karena sekolah ini menggunakan nama Santo Thomas dari Villanova, pelindung studi dalam Ordo Santo Agustinus, para guru dan pembina di SMAKVILL selalu berusaha memadukan nilai-nilai pendidikan Agustinian dalam semua proses pengajaran, pendidikan dan pembinaan baik dalam akademik maupun non-akademik. Nilai-nilai itu ialah Kebenaran-Pengetahuan (Veritas), Kesatuan-Komunitas (Unitas) dan Kasih-Pelayanan (Caritas).
Pada Selasa, 10 Mei 2022 para siswa-siswi SMAKVIL angkatan kesepuluh mengadakan perpisahan dengan para guru dan karyawan-karyawati, kelas X dan XI, para pembina asrama di Aula Navis. Kegiatan perpisahan diawali dengan misa perutusan yang dipimpin oleh P. Hilarius Soro,OSA dan didamping oleh empat pastor konselebran.
Meskipun cuaca saat itu tidak mendukung, misa perutusan tetap dimulai pukul 10.00 WIT. Para siswa-siswi, guru dan beberapa orangtua telah menempati kursi-kursi yang disiapkan. Para siswa-siswi pengurus OSIS mendukung perayaan ekaristi dengan lagu-lagu yang sudah disiapakan. Dalam homilinya pater Athan Bame,OSA memberikan sebuah sharing mengenai menjadi gembala baik di bidang pendidikan. Yesus memberi kita beberapa kriteria/model untuk menjadi pemimpin Kristen.
Khusus bagi para pendidik, kita adalah sarana dari Tuhan yang bekerja dengan-Nya dan satu sama lain untuk membawa perubahan positif dalam kehidupan masyarakat dan secara khusus generasi muda Papua. Pater Athan memberikan lima kriteria menjadi gembala yang baik dalam hubungannya dengan menjadi guru dan pendidik Agustinian dalam konteks Papua yang diambil dari bagian akhir tulisannya dan terinspirasi dari karya Kevin Leman and William Pentak (2004): The Way of the Shepherd, 7 Ancient Secrets to Managing Productive People. Kriteria tersebut ialah sebagai berikut: Realitas manusia Papua (the real situation of Papua): kesadaran atau pengalaman akan realitas Papua; pengetahuan (knowledge): menyadari dan mengetahui situasi konkrit pergumulan masyarakat, situasi/problem pendidikan di Papua (akses, kualitas dan managemen), kebutuhan, keadaan diri para murid, hasrat mereka; mengambil resiko (take risk) dan merespon (respond): berani mengambil resiko kecil atau besar untuk menjawab kebutuhan yakni transformasi sosial daripada hanya diam dan sibuk pelayanan sakramen belaka serta membangun dan mengembangkan sebuah model berpikir dan bertindak yakni service-oriented mindset daripada profit-oriented mindset; dedikasi (dedication): siap mempersembahkan diri kita untuk tujuan yang lebih tinggi, kesediaan kita untuk bersusah payah demi kawanan kita (siswa dan masyarakat); keteladanan (example): Kita diminta untuk mencontoh keaslian, integritas, dan kasih sayang; dan menetapkan standar kinerja yang tinggi; memiliki tujuan (purpose): Tujuan tertinggi kita adalah membangun manusia terlebih dahulu sebelum membangun bangunan agar murid dapat berjalan dan diantar menuju pencerahan, pengharapan dan pembebasan.
Seusai misa perutusan, Claudia Debriyanti mewakili teman-teman angkatan kesepuluh menyampaikan sambutan perpisahannya. Pak Imbenai mewakili orangtua para peserta didik kelas XII memberikan sambutan di mana dia mengucapkan terimaksih kepada para guru di sekolah serta pihak yayasan penyelengara satuan pendidikan, para pembina di asrama putra dan putri dan Ordo Santo Agustinus atas pengajaran, pendidikan, perhatian, bimbingan dan segala macam bantuan yang telah diberikan. Dia juga berharap agar semua orangtua dan pihak-pihak terkait selalu berupaya keras dalam mendukung dalam hal keuangan (membayar biaya pendidikan) dan pikiran-pikiran positif bagi perjalanan lembaga pendidikan ini. Pada giliran terakhir, Pater Stevanus Alo,OSA selaku Kepala Sekolah
SMAKVIL memberikan sambutannya. Mengawali sambutan Pater Stev mengumumkan prosentasi kelulusan dan memperkenalkan para guru, pembina dan tenaga kependidikan yang bekerja di SMAKVIL dan Asrama Putri-Putra. Dalam sambutannya Pater Stev mengucapkan terima kasih kepada semua orangtua yang telah mempercayakan dan menyerahkan anak-anak mereka untuk mengikuti pendidikan di SMAKVIL. Demikian juga kepada para guru, pembina, tenaga kependidikan yang telah membantu proses pembangunan manusia dan para orangtua asuh, para donatur serta pemerintah yang selalu mendukung pihak sekolah dan asrama dalam proyek kemanusiaannya. Pater yang diangkat menjadi Kepala Sekolah per Juni 2021 ini juga menerangkan sedikit tentang situasi layanan pendidikan di SMAKVIL di era pendemi Covid-19 ini di mana banyak perubahan,kesulitan dan tantang-tangan yang dihadapi dalam menerapkan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Pater Kepala Sekolah berpesan dan berharap supaya para alumni (alumnus dan alumna) SMAKVIL senantiasa menghidupi nilai-nilai kehidupan yang didapat di sini dengan tetap semangat belajar, mencari tahu, mencoba hal baik, dan mencari kebenaran (Veritas), membangun persekutuan, rasa persatuan, kepekaan sosial, solidaritas, persahbatan (Unitas) dan melakukan perbuatan kasih dan keadilan, pengorbanan, menyebarkan semangat mengampuni, melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan positif (Caritas). Setelah sambutan, Ibu Monika Dwi Lestari memandu acara pemberian penghargaan kepada peserta didik angkatan X dengan kategori siswa-siswi teladan dan berprestasi. Siswa teladan diperoleh oleh Sdr. Yosep Assem dari kelas XII IPS. Sedangkan siswa-siswi berprestasi yang meraih juara umum diborong oleh anak- anak dari kelas XII IPA 1 yakni sebagai berikut: juara pertama diraih oleh Sdr. Grant Joshua Tambahani, diikuti oleh Sdri. Klara Konsita Da Rato diurutan kedua, lalu Sdri. Nadya Meidianty Loupatty menempati urutan ketiga. Selanjutnya, P. Hilarius Soro,OSA memandu acara pemberian penghargaan kepada para guru berdasarkan penilai para peserta didik menurut dua kategori yakni guru teladan dan guru fovorit. Yang menempati urutan teratas guru favorit adalah Ibu Rasma La Naidi, S.Pd, diikuti Ibu Fransina Waly, S.Pd dan posisi ketiga ditempati oleh Ibu Fanny Sapulete, S.Pd. Sementara itu, sususan guru teladan adalah sebagai berikut Ibu Monica Dwi Lestari, S.Pd, kemudian urutan kedua ialah Pak Swingly Vidi, S.Pd dan Ibu Oktaviana Kasih, S.Pd menduduki urutan terakhir.
Acara perpisahan ini ditutup dengan makan bersama. Sambil makan, para siswa-siswi tampil memberikan hiburan berupa nyanyian dan group dance dari kelas X dan XI.
Perpisahan sebagai akibat dari pertemuan. Jika Anda bertemu, berjumpa, Anda siap untuk berpisah dan bila Anda berpisah, Anda berharap untuk bertemu lagi dalam rupa dan ruah-roh. Jadi pernyataan kalimat judul-sub topik dan kalimat sebelum ini bermakna; bertemu karena kita terpisah mengarah pada motivasi (mo
tivation), sementara berpisah supaya kita bertemu menggambarkan harapan (hope). Penjabarannya ialah para peserta didik SMAKVIL dari semua generasi atau angkat dipisahkan oleh situasi geografis, suku-budaya dan asal- usul, status dan situasi keluarga asal, pendapatan orangtua, latar belakang pendidikan awal, dan kesepatan. Mereka memiliki motivasi yang sama yakni belajar di lembaga pendidikan yang lebih baik. Akhirnya mereka dipertemukan, disatukan dan dibentuk oleh orang-orang yang bekerja di sebuah lembaga pendidikan formal yang bernama SMA Katolik Villanova dengan didukung oleh dua asrama sebagai sarana pembinaan (Asrama Putra Mendel dan Asrama Putri St. Rita). Lembaga yang disebutkan di atas sebagai pemersatu asal- usul dan motivasi, obor pencerahan, sarana pengharapan dan pembebasan. Makna berikutnya mengarah kepada harapan berarti para murid yang hendak berpisah menyadari bahwa mereka telah mendapatkan kesempatan belajar dan telah menerima sejumlah nilai (pengetahuan, spiritual, sosial, perkembangan kepribadian serta nilai-nilai pendidikan Agustinian). Maka harapan mereka agar meskipun berpisah dan berbeda, mereka tetap dipersatukan, relasi mereka tetap terikat dengan teman-teman dan lembaga bilamana mereka terus-menerus menghidupi nilai-nilai tersebut. Jarak tidak dapat memisahkan relasi persaudaraan, ikatan emosional, solidaritas, rasa komunitas-kesatuan (Unitas) dan ungkapan perbuatan kasih, pengampunan, pengorbanan, (Caritas). Sekaligus perpisahan membuat mereka tinggal jarak satu sama lain sehingga mereka berusaha untuk mengambil jarak, melangkah lebih jarak lagi, mendalami lebih jarak lagi, mencoba lebih jarak lagi, dan mengproduksi lebih jarak lagi pengetahuan-kebenaraan (Veritas). (AB).
!!Sayonara!! !!Men Wawa!!
Mgr. Hilarion Datus Lega,Pr Memimpin Misa Penerimaan Sakramen Krisma
di SMA Katolik Villanova Manokwari
P. A. Bame,OSA
Pada Senin, 02 Mei2022 bert
epatan dengan peringatan wajib St. Athanasius, Uskup dan Bapa Gereja dari Alexandria, Mgr. Hilarion Datus Lega,Pr, uskup Manokwari-Sorong didampingi oleh lima imam konselebran (P. Philipus Sedik,OSA, P. Athanasius Bame,OSA, P. Hilarius Soro,OSA, P. Stevanus Alo,OSA, dan P. Soterius Pangguem,OSA) memimpin langsung perayaan ekaristi penerimaan Sakramen Krisma di Aula Navis SMA Katolik Villanova Susweni-Manokwari. Misa yang dimulai tepat pukul 17.00 ini dihadiri oleh para calon penerima krisma, biarawan/biarawati, beberapa orangtua/wali, umat, para guru dan para murid lainnya. Pelayanan Sakramen Penguatan ini diberikan kepada 45 calon penerima yang sebagian besarnya berasal siswa-siswi SMA Katolik Villanova (SMAKVIL) dan ditambah beberapa calon penerima dari paroki terdekat. Para siswa-siswa calon penerima telah mengikuti 12 pertemuan yang dimulai sejak Januari lalu hingga ditutup dengan penerimaan Sakramen Tobat oleh P. Philipus Sedik,OSA dan Pater. Yanurius, Pr pada 30 April 2022. Pembinaan calon penerima krisma diberikan oleh para para pembina di SMAKVIL dan satu keluarga (bapak Yulius dan ibu Vero) dan dilakukan di aula lama yang saat ini dijadikan sebagai tempat ibadah/misa harian. Sedankan para calon yang berasal dari luar SMAKVIL telah mengikuti pembinaan di paroki asal dan direkomendasikan oleh pastor paroki mereka.
Misa dimulai dengan pararakan dari luar menuju Aula Navis. Para calon penerima dengan pakaian putih-hitam
berbaris menuju ke tempat yang sudah disiapkan. Umat yang hadir sudah menampati tempat yang telah diatur oleh para siswa-siswi. Misa sore hingga malam ini diiringi dengan suara indah dan merdu yang mendukung suasana batin serta nuansa liturgi dari paduan suara gabungan dari SMAKVIL yang dipimpin langsung oleh bapak Redy Fatubun. Demikian juga suasana Aula Navis yang didekorasi oleh ibu-ibu dari paroki Emanuel Sanggeng ikut memberikan makna tersendiri bagi perayaan.
Dalam khotbahnya uskup menegaskan mengenai keberanian menjadi saksi Kristus di dunia. Salah satu wujudnya ialah mengikuti model jalan salib Yesus di mana setiap orang Katolik khususnya mereka yang sudah menerima Krisma harus siap mengikuti jalan penderitaan hingga menuju pada jalan pembebasan sebagaiaman Yesus lakukan untuk menyelamatkan manusia. Uskup menambahkan bahwa pengalaman pengadilan Yesus merupakan bukti sejarah bahwa pernah terjadi ketidakadilan dalam dunia pengadilan. Kisah Yesus ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya mengadili manusia saja, tetapi manusia juga mengadili Tuhan. Manusia berlaku tidak adil tidak hanya terhadap sesamanya tetapi juga terhadap Tuhan. Yesus menjalani beberapa hukuman sekaligus seperti hukuman rajam (dipukul, diolok, didera), penyaliban (digantung, dipatahkan tulang-Nya dan ditikam lambung-Nya), dan demontrasi masa yang memperkuat tuduhan palsu dan hukuman mati. Yesus tidak membela diri. Lagipula Dia tidak mengajak serta menghimpun masa untuk membela-Nya. Dia siap sedia menjalani pengadilan yang menghasilkan keputusan yang tidak adil ini karena penyerahan diri secara total dan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa. Orang Katoli juga harus menyerahkan diri secara penuh dan total kepada kehendak Tuhan agar kebesaran nama Tuhan dikenal, dipuji dan dimuliakan lewat pengalaman iman, pengalaman kebangkitan, pengalaman keberhasilan dan pengalaman suka-duka.
Setelah doa penutup Sdr. Yosep Assem mewakili teman-teman menyampaikan ucapan terima kasih. Sedangkan Pater Athan Bame,OSA mewakili pembina dan orangtua memberikan laporan singkat mengenai kegiatan pembinaan, ucapaan terima kasih kepada pihak yang membantu penyelenggaraan misa serta pesan kepada para penerima krisma. Seusai misa diadakan foto bersama dan diakhiri dengan rekreasi bersama. Semoga para penerima Sakramen Krisma lebih berani, tegas, mantap dan pasti dalam upaya menjadikan diri sebagai saksi-saksi Kristus, laskar Kristus dalam pekerjaan, tugas, status, pergumulan dinamika hidup hingga pilihan hidup.
Kecintaan Pada Spiritualitas Agustinus:
Cinta akan Pengetahuan dan Pencarian Kebenaran[1]
Oleh: Fr. Andrew P. Batayola, OSA
(Diterjemahkan oleh Athanasius Bame,OSA)
1. Prakata “O truth, O truth, how deep is the yearning for you in the inmost depths of my being.”
Kata-kata dari St. Agustinus yang menggambarkan dirinya yang sangat berhasrat dalam mencari kebenaran. Adalah suatu kegembiraan bagi saya karena diundang untuk berbicara di kongres internasional ini dan saya akan berada bersama Anda selama empat hari ke depan karena beberapa alasan mendasar. Alasan pertama saya terlibat di sini ialah bahwa saya terdorong oleh pesan utama dari Prior Jenderal Ordo kita, P. Alejandro Moral Anton, OSA, di mana dia mengutip dari Konstitusi Ordo bahwa bahwa kita perlu memiliki ‘penghargaan terbesar untuk kerasulan pendidikan dan menganggapnya sebagai salah satu misi khusus Ordo kita’ (Const 161). Jadi saya yakin bahwa kebersamaan saya sebagai sesama pendidik Agustinian dan kehadiran kita semua dalam kongres ini menunjukkan penghargaan kita pada kerasulan ini.
Kedua, sebagai bagian dari rencana karya Komisi Kerasulan Pendidikan, pada level Ordo (Roma), komunitas edukatif provinsi dan komunitas edukatif lokal, untuk memperkuat budaya dan spiritualitas Agustinian di sekolah-sekolah kita, sehingga konferensi singkat tentang spiritualitas dan kongres pendidikan akan diadakan. Mungkin melalui presentasi ini, baik para biarawan dan pendidik awam serta pendukung lain dari kerasulan pendidikan ini akan didorong untuk bekerja sama dan membangun jaringan dengan orang lain dalam pekerjaan dan pelayanan kita sebagai Agustinian. Saya bersedia untuk berbagi pemikiran saya kepada dan dengan Anda sambil saya juga akan terus belajar pengalaman, realitas dan situasi (konteks) dari pelbagi sekolah Agustinian lainnya.
Ketiga, meskipun topik spiritualitas adalah minat saya, saya juga memiliki hasrat untuk berbicara tentang hal ini di ruang kelas, di gereja, di komunitas basis gerejawi, dalam sesi akademis atau dalam pertemuan seperti ini. Tapi di atas semua itu saya tidak bisa mengatakan 'Tidak' untuk menolak permintaan dari Vikaris Jenderal & Presiden Komisi Pendidikan kita, Fr. Joseph Farrell, OSA. Saya berharap berbagi pemikiran spiritual saya tentang Agustinus akan sangat membantu kita semua dalam upaya mencari dan berziarah menuju Allah, Sang Kebenaran (Trurth). Adalah keinginan besar saya untuk dapat melakukan ini, atau sebaliknya saya merasa bahwa saya akan ditegur oleh guru spiritual saya, Agustinus yang pernah berkata: “Jika tidak ada sesuatu yang dapat Anda katakan sehingga membuat saya lebih baik daripada sekarang, lalu mengapa Anda berbicara kepada saya?” Artinya, jika tidak ada yang ingin kusampaikan yang akan membuatmu lebih baik dari saat ini, lebih baik saya tutup mulut!
Tema Kongres Pendidikan Agustinian saat ini adalah “Pedagogi Agustinian: Semangat untuk Pendidikan” (Augutinian Pedagogy: A Passion for Education). Tema ini berpedoman pada kata-kata Agustinus “Cinta ilmu dan kebenaran seharusnya mendorong kita untuk terus belajar. Kasih kepada sesama harus mendorong kita untuk mengajar.” Untuk menjelajahi tema di atas, saya ditugaskan untuk menyampaikan ceramah tentang topik – Semangat Spiritualitas Agustinian: Cinta akan Pengetahuan dan Pencarian Kebenaran” (Passion for Augustinian Spirituality: The Love of Knowledge and Search for Truth). Tidak ada hal baru untuk dibagikan dengan Anda, tetapi untuk mempelajari topik ini, saya ingin mencoba menjelaskan hal ini dalam tiga bagian: pertama, Form (dasar-bentuk): Spiritualitas Agustinian dalam Karya-Kerasulan Pendidikan; kedua, Re-Inform: Berbagai Diskusi Terkait Pengetahuan dan Kebenaran; dan ketiga, Transform: TantanganTantangan bagi Pendidik Augustinian sekarang.
Dari sekian banyak definisi spiritualitas, saya mau mengajak kita untuk melihat bagaimana
Tarcicius van Bavel, OSA mendefinisikan spiritualitas sebagai ‘jendela Injil’ (window on the gospel). Agustinus telah mengalami perjalanan dunia kata (word-journey) - dari tidak menyukai tulisan-tulisan suci (sacred writings), perlahan-lahan menemukan kegembiraannya setelah Ambrosius memulai berbicara demi pertobatan moralnya (moral conversion) di taman Milan sampai mempelajari Kitab Suci setelah tabisannya. Perjalanan menuju spiritualitas alkitabiah (journey towards biblical spirituality) dan konteksnya (tempat, orang, lingkungan politik dan agama) membentuk bagian dari praktek hidupnya atau spiritualitas yang dihayati oleh Agustinus. Sesungguhnya konteks adalah konten. Konteks Agustinus menjadi isi spiritualitasnya. [Truly context is content. The context of Augustine became the content of his spirituality].
Spiritualitas Agustinus diekspresikan dengan baik dalam Regula yang dia tulis untuk komunitasnya. Konstitusi mengatakan “dokumen utama spiritualitas kita adalah Regula” (Const, 16). Luis Marin de San Martin, OSA mendefinisikan spiritualitas Agustinian sebagai “spiritualitas yang sesuai dengan Ordo St. Agustinus yang menggabungkan ajaran dan teladan Uskup Hippo dengan ciri-ciri spiritual gerakan meminta-minta atau pengemis (mendicant movement), semua ini dihayati dan diwujudkan oleh Ordo sepanjang sejarahnya dalam semua situasi yang berbeda baik waktu, tempat dan budayanya” (San Martin, 2013, 194). [“the spirituality proper to the Order of St. Augustine that joins the teaching and example of the Bishop of Hippo with the spiritual features of the mendicant movement, all of this as lived and manisfested by the Order throughout its history in all its different circumstances of time, place and culture”]. Jadi, San Martin mengidentifikasi empat pilar spiritualitas Agustinian, yaitu: interioritas (interiority), komunitas (community), kemiskinan (poverty) dan gerejawi (ecclesiality). San Martin dan dokumen Kapitel Umum Biasa 2007, mengakui adanya dua sumber dari Spiritualitas Agustinian, yaitu dari Agustinus sendiri dan dari tradisi pengemis (mendicant tradition).
Dari Agustinus sendiri, elemen-elemen penting dari spiritualitas Agustinian adalah interioritas (interiority), persekutuan hidup (communion of life), dan pelayanan kepada Gereja (service to the Church). Dari tradisi pengemis, dimensi ini menggarisbawahi pencarian kita akan
Tuhan (search for God), kehidupan persaudaraan (fraternal life) dan hasrat untuk mengikuti “Kristus yang miskin.” Dalam hal interioritas dan pencarian akan Tuhan, kata-kata Agustinus, “Engkau telah menciptakan kami dan menarik kami kepada dirimu sendiri dan hati kami tidak tenang sampai beristirahat di dalam dirimu (Confessions, I, 1, 1), berbicara tentang hati yang tidak pernah berakhir mencari Tuhan dan menawarkan “sebuah kisah hidup dan integrasi dari spiritualitas Agustinian” (Robert Russell OSA). Berkenaan dengan persekutuan hidup (communion life) dan hidup persaudaraan (fraternal life), van Bavel, OSA, mencatat bahwa spiritualitas Agustinus merangkul nilai-nilai Injil seperti komunitas (community), mencintai sesama kita (loving our neighbor) sebagai ekspresi konkret dari mencintai Tuhan dan pengembangan hubungan yang baik (development of good relationships). Ketiga, cinta kepada gereja membawa kita pada kesiapsediaan-kehadiran total untuk kebutuhan Gereja, dengan menerima tugas-tugas yang diminta gereja kepada kita ... pelayanan kepada Gereja ini merupakan salah satu karakteristik penting dari spiritualitas Agustinian (Konst 35). Miguel Angel Orcasitas, OSA, menyebutkan bahwa ada tiga elemen yang membentuk Spiritualitas Agustinian: pencarian akan Tuhan (search for God), komunitas (community) dan pelayanan kepada Gereja (service to the Church). Komunitas sebagai intinya, karena komunitas adalah permulaan pencarian akan Tuhan dan organisasi di mana Gereja dilayani.
Ketiga elemen spiritualitas Agustinian ini juga berkaitan dengan panggilan pribadi kita untuk metanoia, koinonia dan diakonia atau panggilan Kristen untuk pertobatan, persekutuan dan komitmen pelayanan. Menerapkan ketiga elemen spiritualitas Agustinian ini ke dalam konteks pendidikan, kita dapat menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan Augustinian dalam setiap lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan spiritualitas kepemimpinan pendidikan (the spirituality of educational leadership).
Nilai-nilai inti dari pendidikan Agustinian - kebenaran, persatuan-persekutuan, dan cinta kasih (veritas, unitas, dan caritas) tertanam dengan baik pada unsur-unsur spiritualitas Agustinian. Pencarian akan kebenaran merupakan inti dari pendidikan Agustinian. McCloskey (2006) berpendapat bahwa Agustinus memulai perjalanan yang berkelanjutan dalam mengejar dan mempelajari kebenaran. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Agustinus tidak pernah menangkap kebenaran dan bahwa setiap kebenaran baru bergerak maju dan mendorong atau mengarahkan kita untuk berdialog dengan Guru Batin (the Inner Teacher), Yesus Kristus. Nilai persekutuan-persatuan (the value of unity) dipromosikan dalam pendidikan Augustinian melalui dialog antara guru dan siswa dan dengan satu sama lain, dan dengan para pemimpin sekolah dan anggota komunitas edukatif. Bersandar dengan orang lain adalah hal yang paling penting dan sarana di mana proses pembelajaran berlangsung. Nilai inti terakhir dari pendidikan Agustinian adalah cinta kasih. Nilai cinta kasih (the core value of love) dimulai dengan cinta kepada Tuhan. Pater Theo Tack,OSA menegaskan bahwa pendidikan Augustinian memiliki hubungan penting dengan hati manusia dan hubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan dengan orang lain. Cinta kepada Tuhan kemudian diungkapkan melalui perwujudan cinta untuk belajar (love for learning) dan kepedulian bagi pelajar (care for the learner).
Perguruan-perguruan tinggi di Filipina berjalan berdasarkan trilogi fungsi atau Tri Dharma perguruan tinggi yakni penelitian (research), pengajaran (instruction) dan pengabdian kepada masyarakat (community service). Meskipun masing-masing berbeda dalam fungsi, ketiganya saling berkaitan sebagaimana dalam tiga unsur spiritualitas Agustinian. Penelitian di lingkungan sekolah mengarah pada pencarian pengetahuan baru (new knowledge) atau memperluas pengetahuan yang ada (broadens existing knowledge) lewat pengajaran dan pengabdian masyarakat. Sekolah Augustinian adalah sekolah yang menawarkan penemuan kebenaran melalui penelitian ulang, pembelajaran, dan diarahkan dengan mencari dan menemukan rangkaian kesatuan-keberlajutan
(continuum), seperti yang dikatakan oleh Agustinus sendiri, “Ketika kebenaran sangat dicari, menemukannya dapat menghasilkan kenikmatan yang lebih besar. Setelah kebenaran itu ditemukan, kebenaran itu dicari lagi dengan keinginan yang diperbarui” (The Trinity, 15, 2, 2). [When truth is eagerly sought, finding it produces greater enjoyment. Found, it is sought again with renewed desire]. Pengajaran menggunakan baik landasan teoritis maupun praktis juga menerapkan ilmu yang diperoleh dari penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Agustinus menegaskan bahwa ‘instruksi-pengajaran diakhiri dengan cinta kasih’ (Customs of the Catholic Church 1, 28, 56). Cinta kasih yang dimaksud adalah cinta kasih sebagaimana dikemukakan sebelumnya oleh Tack, yakni cinta untuk belajar (love for learning) dan peduli kepada peserta didik (care for the learner), sehingga terwujudlah kesatuan komunitas belajar. Kebenaran adalah milik seluruh komunitas pendidikan, seperti yang dikatakan oleh Agustinus, “kebenaran adalah warisan dari semua maka kebenaran bukanlah milik khusus dari siapapun. Sehingga semua yang datang dapat menggunakannya dan tercerahkan. Bagi semua, kebenaranya itu sama jauh dan sama dekatnya. (Komentar tentang Mazmur 76, 12). Di sisi lain, pengabdian kepada masyarakat menghasilkan rencana-rencana dan program-program yang berorientasi pada pengabdian pembangunan masyarakat (community development-oriented service) dari hasil pembelajaran dan penelitian. Kerasulan sosial harus dilaksanakan dengan membentuk kelompok-kelompok aktif dengan komunitas kita, baik umat beriman maupun para peserta didik sekolah kita. Kelompokkelompok itu tidak hanya dibuat untuk memberikan bantuan sosial, tetapi secara khusus agar mereka dapat menjadi agen dari komitmen sosial Agustinian (Konst. 184).
Untuk memperkuat nilai-nilai dan identitas Agustinian di sekolah kita, pribadi pemimpin dipandang sebagai elemen sentral. Yang berkaitan dengan unsur interioritas adalah gaya kepemimpinan reflektif (reflective style of leadership). Pemimpin reflektif adalah orang yang mampu menilai diri sendiri (self-assessing) dalam kaitannya dengan karakteristik dan sifat esensial dalam upaya mencapai sesuatu. Pemimpin spiritual ketika dihadapkan pada tantangan-tantangan besar akan sering kali memilih melakukan retret, dan berdoa, melakukan meditasi, atau mencari suasana/rasa tenang untuk kemudian memberikan tanggapan yang tepat terhadap situasi yang dihadapi sekolah. Kontemplasi, bukan konfrontasi, adalah praktik yang disukai oleh para pemimpin spiritual ketika memecahkan masalah (Thompson, 2012, 116). Gaya kolaboratif pemimpin spiritual berkaitan dengan kemampuan luar biasa mereka untuk menghasilkan dan merawat konflik yang berharga melalui dialog (dialogue) dan persahabatan (friendhisp). Pemimpin spiritual memiliki hati yang selaras dengan tujuan kelompok, organisasi, atau seluruh komunitas pendidikan (educative community). Wajar bagi seorang pemimpin spiritual untuk memiliki rasa komunitas (sense of community) di dalam dan di luar tempat kerja (Groen, 2001). Para pemimpin di dunia pendidikan perlu mempraktikkan model kepemimpinan Hamba (Servant-leadership) di mana sifat dasarnya ialah memperhatikan dan mencintai orang lain. Gaya kepemimpinan ini melibatkan individuindividu yang mampu memotivasi dan menginspirasi melalui visi dan agenda yang jelas untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Robert Prevost, OSA dalam artikelnya, ‘The Servant Leader in the Perspective of Augustinian Spirituality’, mencatat bahwa jenis kepemimpinan ini berbasis Injil. Ada beberapa pandangan Agustinian mengenai pengalaman manusia yang memberikan apresiasi yang lebih dalam bagi jenis kepemimpinan ini, sebuah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan dalam komunitas Augustinian saat ini termasuk komunitas pendidikan.
Singkatnya, ketiga elemen spiritualitas Agustinian ini: interioritas (interiority), persekutuan hidup (communion of life), dan pelayanan kepada Gereja (service to the Church) menjadi landasan bagi nilai-nilai dasar pendidikan Agustinian yaitu veritas, unitas, dan caritas. Triologi fungsi perguruan tinggi, yaitu penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat juga menemukan landasannya. Gaya kepemimpinan Augustinian (Augustinian leadership style) yang reflektif, kolaboratif, dan melayani juga dapat berakar pada spiritualitas Agustinus.
Kecintaan Augustinian pada pengetahuan dan pencarian kebenaran atau devosi untuk studi yang berkaitan bidang sakral ataupun profan menemukan tempatnya dalam konteks pendakian pikiran atau keterarahan pikiran kepada Kebenaran (the mind’s ascent to Truth). Dimensi intelektual dari spiritualitas Augustinian telah diperhatikan secara saksama. Beberapa pemikir Augustinian terkenal seperti Gary McCloskey, Theodore Tack, Donald Burt, Alberto Esmeralda, Insunza Seco, Rubio Bardon, dan Galindo Rodrigo membahas topik tersebut secara mendalam. Setelah belajar dari para pemikir tersebut, kita akan membahas dimensi intelektual ini karena berkaitan dengan pembinaan dan pendidikan para murid dalam beberapa sub pokok pembahasan berikut: (a) Lewat Interioritas ke Kebenaran; (b) Iman dan Nalar; dan (c) Keutamaan dan Ilmu Pengetahuan.
Interioritas adalah nilai tertinggi yang Agustinus hidupi sepenuhnya. Ini mengacu pada kehidupan integritas (the life integrity) atau keutuhan tujuan (singleness of purpose) di mana seseorang harus lakukan untuk meningkatkan kemajuan hidup spiritual. Hal ini melibatkan fokus dan konsentrasi pada pentingnya diri (self) dan terlebih pada Tuhan yang ada di dalam daripada hal-hal di luar. Fermin Fernandez Bienzobas, OSA menegaskan bahwa Agustinus mengajak orang untuk melakukan perjalanan hidup dengan menjalani petualangan wisata interior (the adventure of interior tourism). Seperti dikatakan oleh Agustinus, “Orang-orang mengagumi gunung-gunung yang tinggi, dan ombak besar di laut, dan air terjun, dan samudra yang luas dan tarian bintangbintang, tetapi mereka meninggalkan diri mereka sendiri di belakang pandangan” (Confessions, X, 8, 15). Agustinus mengilustrasikan perjalanan menuju interioritas ini ketika dia berkata,
“Kembalilah ke dirimu sendiri. Karena di dalam diri batiniah kebenaran berdiam” (On True Religion 39,72). Jalur yang ditempuh dalam wisata interior ini menurut Bienzobas,OSA adalah yang melampaui interioritas.
Agustinus menceritakan, “Saya masuk di bawah bimbingan Anda ke tempat-tempat terdalam keberadaan saya, saya masuk, dan dengan penglihatan roh saya nampaknya ada cahaya yang tidak berubah. Cahaya yang saya lihat sama sekali bukan cahaya biasa melainkan sesuatu yang berbeda, sama sekali berbeda, dari segala sesuatu. Siapa saja yang mengetahui kebenaran, dia mengetahui cahaya itu, dan siapa pun yang mengetahui cahaya itu, dia mengetahui keabadian. Kasih mengetahuinya. O Kebenaran abadi, Cinta sejati, dan Keabadian terkasih, Engkau adalah Allahku, dan kepadamu aku mengadu siang dan malam (Confessions VII, 10, 16). Metode interioritas bersua dengan Kebenaran yang ada di dalam. McCloskey (2006) menegasakan bahwa dalam pedagogi Augustinian belajar bagaimana menjadi pribadi yang bersemangat untuk mempelajari kebenaran tidak hanya bersifat personal (pribadi) tetapi juga komunal karena memiliki pendekatan komunitarian.
Agustinus, sebagai seorang anak belajar iman Katolik dari ibunya, Monica. Tetapi pada saat menjadi seorang remaja dia meninggalkan iman Katolik itu karena dia tidak dapat menemukan lagi keabsahannya dan menolak sebuah agama yang, menurut pikirannya bukan merupakan ekspresi akal budi, yaitu kebenaran. Rasa haus akan kebenaran sangat radikal dalam dirinya sehingga membuatnya menjauh dari iman Katolik. Namun, radikalisme (pikiran dan hasrat untuk menemukan kebenaran) yang dianutnya merupakan sesuatu yang tidak dapat membuatnya puas. Karena dalam radikalisme itu terdapat filsafat-filsafat yang tidak mengarah pada kebenaran itu sendiri, tidak mengarah kepada Allah, kepada Allah yang bukan hanya hipotesis kosmologis tertinggi (ultimate cosmological hypothesis) tetapi juga Tuhan yang benar, Tuhan yang memberi kehidupan dan masuk ke dalam hidup kita.
Seluruh perkembangan intelektual dan spiritual Agustinus bisa menjadi sesuatu model yang cocok saat ini dalam hubungan antara iman dan akal budi (rasio) bagi kaum beriman maupun setiap orang yang mencari kebenaran (karena kebenaran telah menjadi tema sentral dalam keseimbangan dan nasib setiap manusia). Kedua dimensi, iman dan akal budi ini harus selalu berjalan seiring. Seperti yang ditulis oleh Agustinus sendiri setelah pertobatannya, iman dan akal budi adalah “dua kekuatan yang membawa kita pada pengetahuan” (Against the Skeptics, III, 20, 43). Maka Agustinus mengekspresikan sintesis yang koheren dari iman dan akal budi: “Saya percaya supaya memahami”- [I believe in order to understand] percaya membuka jalan untuk melintasi ambang kebenaran –demikian juga secara tak terpisahkan “Saya mengerti lebih baik supaya percaya”, [I understand, the better to believe] orang percaya mesti menelaah kebenaran supaya dapat menemukan Tuhan dan supaya percaya kepada-Nya (lih. Khotbah 43, 9). Hubungan yang harmoni antara iman dan akal budi menunjukan bahwa Tuhan tidak jauh: Dia tidak jauh dari akal budi dan hidup kita; dia dekat dengan setiap manusia, dekat dengan hati dan akal kita, jikalau kita sunguhsungguh berziarah.
Lambang sekolah Augustinian Filipina berisi tiga simbol: elang yang memiliki cakar, lambang Ordo Santo Agustinus dan di bawah sayapnya, tertulis kata-kata “virtus et scientia”. Simbol elang adalah suatu ciri khusus lembaga yang berkaitan dengan para Agustinian Spanyol. Elang, berhubungan dengan Istana Kerajaan raja Philip II, Raja Spanyol yang memberikan namanya untuk negara kami, Filipina. Elang sebagai lambang istimewa bagi kami; ia dapat membangkitkan elang kekaisaran Spanyol atau elang emas - keduanya ada dalam kehidupan nyata. Elang juga melambangkan Agustinus sebab laksana seekor elang dia menggapai dan memiliki kontemplasi yang tinggi dan ketajaman visi teologisnya.
Moto sekolah adalah virtus et scientia. Frasa ini tidak ada dalam tulisan Agustinus, tetapi frasa ini mengarisbawahi banyak rumusan Agustinus tentang hubungan sains dan iman, kebijaksanaan dan pemahaman, pengajaran dan praktik. Alberto Esmeralda, OSA mengakui bahwa memang ilmu kebajikan binomial tidak muncul dalam karya Agustinus meskipun ConcupiscenceIgnorance yang adalah kebalikannya termuat di dalam karyanya. Agustinus mengajarkan bahwa selain kematian, dua efek dosa asal dalam diri kita adalah nafsu (concupiscence) atau hasrat rendah manusia yang terarah pada diri karena menikmati suatu objek (makanan, pakaian), orang (gairah seksual), atau pengalaman yang bertentangan dengan akal budi, dan ketidaktahuan (ignorance). Nafsu, suatu hal yang melemahkan kehendak (the weakening of will), dan ketidaktahuan, suatu hal yang melemah kecerdasan (the weakening of intellect) menjadi dasar perbudakan dosa kita. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Agustinus, Tuhan kita, Dokter Ilahi, begitu bijaksana sehingga Ia menawarkan dua jenis pengobatan untuk penyakit kita: penyembuhan melalui pertentanganpertentangan (a cure by contraries), dan pengyembuhan dari kesamaan-kesamaan (a cure of similarities). Dalam hal ini Dokter Ilahi memberikan obat penyembuhan berupa keutamaan (virtue) untuk memulihkan nafsu dan sains (science) untuk meyembuhkan ketidaktahuan. Dia memberi kita keutamaan (virtue) dan sains (ilmu pengetahuan) melalui proses formatif yang kita sebut “pendidikan Agustinian.” Keutamaan sebagai kekuatan karakter, dan ilmu pengetahuan atau sains sebagai kekuatan kecerdasan. Keduanya merupakan dua sayap yang memungkinkan elang kita terbang, melayang, melampaui dan mengatasi keterbatasan kelemahan manusia. Saat ini, elang yang melebarkan sayapnya sekali lagi untuk terbang ke ketinggian baru adalah para murid kita. Oleh karena itu, motto Virtus et scientia harus dipakai sebagai indikasi bahwa kecintaan Agustinus pada pengetahuan dan pencarian kebenaran atau pengabdian kita untuk belajar dan menelaah harus dijadikan sebagai elemen integral dalam pertumbuhan seseorang dalam kehidupan Kristen.
Ada tantangan besar bagi kita sebagai pendidik di abad ke-21 ini, namun saya akan membatasi hanya tiga yang berkaitan dengan topik yang ditugaskan kepada saya.
Kita perlu melanjutkan karisma atau spiritualitas Ordo kita. Tantangan hari ini menanggapi tuntutan baru pendidikan masa depan sambil menjunjung tinggi nilai tradisi (lih. Mark Stower). Semua anggota komunitas edukatif harus berjuang untuk terus dibentuk dengan cara Agustinian. Sebagaimana Konstitusi mencatat, “kita harus mendorong komunitas pendidikan di sekolah kita untuk menghayati nilai-nilai Injil dari perspektif spiritualitas dan pedagogi Agustinian (Konst 163). Yang penting adalah kita harus menjadi saksi dari nilai-nilai spiritualitas dan pedagogi Agustinian karena orang modern tidak akan mendengarkan para guru kecuali mereka (para guru) adalah saksisaksi nila-nilai tersebut. Tujuan kita sebagai pendidik Agustinian adalah untuk “memperkuat identitas dan nilai Agustinian melalui pembentukan standar formasi dan integrasi dalam kurikulum, pengajaran dan penelitian” (Provinsi Cebu, Program Quadrennial, 54).
Pelbagi pengajaran dan pembelajaran yang kita terima, apa yang kita dengar, lihat dan alami bahkan seluruh seluruh hidup itu sendiri menimbulkan pertanyaan terus menerus. Orang yang mencari jawaban yang benar dengan tekun dapat berkembang dalam pengetahuan (knowledge) dan kebijaksanaan (wisdom). Mencari berarti bertanya-tanya. Dengan demikian, melalui rencana pendidikan dimungkinkan untuk menciptakan kondisi bagi seseorang untuk mengembangkan karunia mencari dan untuk dibimbing dalam menemukan misteri keberadaannya dan realitas di sekitarnya sampai dia mencapai ambang batas iman (lih. cf. Consecrated Persons and Their Mission in Schools, 51). Para pendidik perlu terlibat dalam dialog yang akan meningkatkan pembelajaran dan penemuan kebenaran dari kesadaran diri (self-awarnerss) hingga kesadaran sosial (social-awaraness).
Di sekolah, pengetahuan manusia bisanya dilihat sebagai kebenaran yang akan ditemukan. Penemuan dan kesadaran akan kebenaran mengarah pada penemuan Kebenaran itu sendiri. Seorang guru yang penuh dengan hikmat Kristiani dan telah dipersiapkan dengan baik melakukan lebih dari sekadar apa yang dia ajarkan kepada murid-muridnya. Lebih dari apa yang dia katakan, dia membimbing murid-muridnya melampaui kata-katanya ke pusat Kebenaran absolut. (cf. The Catholic Schools, 41). Dengan demikian, identitas dan iklim sekolah Augustinian adalah iklim dan lingkungan yang menawarkan penemuan kebenaran melalui studi dan perwujudannya melalui komitmen etis (ethical commitment) (cf Santiago Insunza Seco, OSA).
Berada di Universitas Villanova, nama yang diambil dari St Thomas Villanova, Pelindung
Studi Ordo, kita yang bekerja di kerasulan sekolah semua diingatkan tentang mandat untuk dibentuk (form), diingatkan kembali (re-informed) dan diubah (transformed). Kita perlu berkomitmen untuk terus membina spiritualitas dan pedagogi Agustinian. Kita perlu diingatkan kembali mengenai pentingnya komitment kita untuk belajar dan mencari kebijaksanaan dan menemukan Kebenaran yang ada di dalam. Lagipula kita perlu ditransformasikan melalui pedagogi Augustinian dalam hal kecintaan kita pada pengetahuan dan pencarian kebenaran.
Untuk mengakhiri, izinkan saya mengutip firman Yesus dalam Injil Yohanes, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14: 6). Agustinus mengomentari kata-kata ini dengan mengatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Karena melalui/oleh saya kamu datang; kepada Akulah yang kamu datang, dan di dalam diriku kamu tetap tinggal. Bagaimana cara kamu ingin pergi? Saya jalannya. Kemana kamu ingin pergi? Akulah kebenaran. Di mana Anda ingin tinggal? Akulah hidup. (On Christian Doctrine, 1, 34). Semoga kita melanjutkan perjalanan yang tiada henti dari proyek seumur hidup ini yang mendorong kita untuk mencari kebenaran dan pada akhirnya kita diubah menjadi pribadi yang serupa dengan pribadi Kristus yang adalah Sang Kebenaran.
Questions for Reflection
[1] Makalah ini disampaikan pada Kongres Pendidikan Augustinian (Augustinian Education Congress 2017) yang diselenggarakan oleh International Commission for Augustinian Centers of Education di Universitas Villanova pada tanggal 24-28 July 2017 dengan tema: Augustinian Pedagogy: A Passion for Education. Judul asli dari tulisan ini adalah Passion for Augustinian Spirituality: Love of Knowledge and Search for Truth.
PELAKSANAAN UJIAN SEKOLAH DI SMAS KATOLIK VILLANOVA DENGAN MODEL "SEMI ONLINE"
Pelaksanaan Ujian Sekolah untuk siswa-siswi SMAS Katolik Villanova mulai dilaksanakan sejak Senin, 28 Maret sampai dengan Selasa 5 April 2022. Ujian sekolah 2 tahun terakhir ini terlihat berbeda. Sejak Covid-19 menghantam dunia, Indonesia pada khususnya proses belajar mengajar disetiap instansi pendidikan formal dan non formal di lakukan secara online. Kurikulum pembelajaranpun disederhanakan menjadi Kurikulum Darurat Covid-19 agar materi pembelajaran dapat menjangkau para siswa dan guru itu sendiri. Beberapa aspek penilaian guru terhadap siswa menjadi tidak dapat dijangkau, mengingat semua siswa dan guru berada di rumahnya masing-masing. Walaupun demikian, Guru dan peserta didik dituntut untuk secara perlahan memulai suatu habitus baru yaitu belajar dalam jaringan (Daring), luring maupun blanded learning, ataupun sejinisnya.
Sejak Maret tahun 2020 sampai dengan saat ini (2022) para guru dan siswa SMAS Katolik Villanova mulai melakukan KBM secara online. Tentu banyak sekali masalah/kendala yang dihadapi baik oleh siswa maupun oleh guru itu sendiri, seperti mulai dari kepemilikan HP, Jaringan internet, Quota/data, gaptek, Listrik, partisipasi ortu/wali, lingkungan sosial dan lain sebainya. Semua itu, mau tidak mau harus berjalan sesuai dengan waktu pembelajaraan dan "apa adanya". Begitu banyaknya keterbatasan yang dimiliki oleh para siswa pada tahun-tahun pertama kegiatan belajar mengajar secara online, maka sejumlah kecil siswa SMAS Katolik Villanova tidak dapat menuntaskan pembelajarannya dan melanjutkannya pada tingkat semester berikut. Maka dari itu, untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan ketidaktuntasan siswa dalam belajar online, maka pihak sekolah memutuskan agar mulai tahun baru 2022 para siswa yang memiliki kesulitan, keterbatasan, ketidakmampuan dalam belajar online dapat menetap di asrama (putra dan putri) agar didampingi oleh para pembina asrama dan para guru. Sekolah menyediakan sarana penambahan quota WIF bagi para siswa yang akan melakukan pembelajaran online di sekolah dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Dengan demikian, kemungkinan-kemungkinan ketidaktuntasan siswa dapat diperkecil, dan tidak seperti realitas pada tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun ajaran 2020/2021, penyelengga
raan Ujian Sekolah untuk siswa kelas XII dilakukan secara full Daring (online). Panitia penyelenggara Ujian Sekolah menyediakan aplikasi E-Ujian untuk pelaksanaan ujian dimaksud. Peserta didik dapat mengikuti Ujian Sekolah dari rumah mereka masing-masing dengan menggunakan HP, Laptop atau sejenisnya. Pengawasan/pendampingan terhadap peserta didik yang sedang mengkuti Ujian Sekolah dilakukan oleh dua pihak, yakni baik oleh guru di sekolah maupun orangtua/wali di rumah. Pengawasan yang dilakukan oleh guru di sekolah, yakni melalui kamera HP/Lapop atau sejenisnya. Panitia Ujian Sekolah memodifikasi E-Ujian sedemikian rupa sehingga dapat memantau peserta ujian ketika tidak melaksanakan ujiannya dengan baik, atau menyeleweng dalam mengikuti Ujian Sekolah. Pihak kedua adalah orang tua/wali murid di rumah. Karena itu, selain sibuk dengan pekerjaannya orangtua/wali murid juga diminta terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan Ujian Sekolah bagi anak-anak mereka yang sedang bersama mereka di rumah. Orangtua/wali murid diharapkan dapat mendampingi anak-anaknya, menginformasikannya kepada panitia pelakasana Ujian apabila anak-anaknya tidak dapat mengikuti Ujian Sekolah dengan baik, atau singkatnya memberitahu kepada pihak sekolah tentang berlangsungnya pelaksanaan Ujian anak-anaknya. Betapa tidak efektif dan efisiennya proses ini, namun mau tidak mau proses seperti ini harus dilakukan selama pandemi Covid19 belum dinyatakan berkurang/atau hilang.

Pelaksanaan Ujian Sekolah di tahun pelajaran 2021/2022 sedikit berbeda. Ujian Sekolah pada tahun ini dilaksanakan sejak hari Senin tanggal 28 Maret sampai dengan Selasa 5 April 2022. Tahun ini Pelaksanaan Ujian dilakukan secara Semi Online di mana peserta didik tetap melakukan Ujian secara online, namun semua peserta ujian di Wajibkan untuk berada di dalam kelas dengan menggunakan atribut sekolah secara lengkap dan mematuhi protokol Covid-19. Peserta didik mengikuti proses mulai dari simulasi peraturan pelaksanaan Ujian Sekolah sampai dengan Penggunaan Aplikasi E-Ujian dan Protokol Covid-19 demi memperlancar proses Semi Online yang akan diselenggarakan oleh panitia Ujian Sekolah. Peserta didik tetap diwajibkan membawa HP, Laptop atau sejenisnya ke dalam kelas untuk mengakses E-Ujian dalam bentuk link yang sudah disiapkan oleh panitia Ujian sesuai dengan jadwal yang telah dibagikan. Setiap ruang ujian didampingi oleh 2 orang guru pengawas seperti lazimnya. Jaringan internet yang digunakan oleh siswa selama mengikuti Ujian Sekolah disiapkan oleh sekolah, sehingga panitia Ujian dapat memblokir aplikasi-aplikasi lain yang mengganggu proses Ujian Sekolah. Proses pengawasan Ujian Sekolah dilakukan secara ketat, setiap ruangan berisi 15-17 peserta Ujian sekolah. Jumlah siswa SMAS Katolik Villanova tahun Pelajaran 2021/2022 yang kini sudah melangsungkan Ujian Sekolahnya sebanyak 65 Peserta didik. Dengan demikian ada 5 (lima) ruang kelas yang dipergunakan sebagai kelas Ujian Sekolah. Waktu pelaksanaan Ujian Sekolah dimulai sejak pukul 08.00 WIT-13.00 WIT. Para Pengawas dan Peserta Ujian diwajibkan telah berada di Sekolah pukul 07.15 WIT untuk mempersiapkan kelas dan peserta Ujian dalam melaksanakan Ujian Sekolah.
Hari ini Selasa, 5 April 2022 adalah hari terakhir pelaksanaan Ujian Sekolah bagi Peserta Didik kelas XII Tahun pelajaran 2021/2022. Semua proses berjalan dengan baik dan lancar. Beberapa kendala memang dialami oleh panitia, namun semuanya terlaksana dengan baik. Semoga hasil yang diperoleh semua peserta ujian tahun ini pun membanggakan. Amin
By_
#SA@PENA#
© Copyright 2018 smaskatolikvillanova