Hi...teman-teman semuanya, kini saatnya anda menentukan pilhan anda untuk melanjutkan studimu ke jenjang berikutnya. Ayo pilih SMA yang anda minati, tentu saja bahwa SMA tujuan anda harus yang berkompeten dan bermutu ya, supaya anda pun bisa mendapatkan apa yang anda harapkan.
Mari bergabung bersama kami di SMAS Katolik Villanova Manokwari. Sekolah kami terbatas, mengingat pola pendidikan di SMAS katolik Villanova adalah boarding school. Berikut kami lampirkan info pendaftarannya;

"SEBUAH KEKUATAN BESAR DIBALIK CINTA".
(Kisah Anak Pulau Lemon yang "hampir" Putus Sekolah)
Stevanus Alo, OSA

Kayan Maryen atau akrab disapa Eko adalah salah satu dari ke 62 Siswa SMAS Katolik Villanova Manokwari yang dinyatakan Lulus pada tahun tanggal 06 Mei 2024. Nama "Eko" adalah sapaan akrab dari teman-teman, guru dan pembina di SMAKVILL. Eko adalah siswa angkatan tahun 2019/2020, seharusnya Eko sudah LULUS sekolah pada pada tahun ajaran 2021/2022. Akan tetapi karena kondisi dan situasi berkata lain, maka Eko baru dinyatakan Lulus pada tahun pelajaran 2023/2024? Mengapa dan kenapa demikian?
Berikut ini adalah secuil kisah tentang Kayan Maryen (Eko) dalam memperjuangkan pendidikannya hingga usai pada tahun 2023/2024.
Angka Sembilan Angka Pengubah Nasibku, Yang Kudamba ialah Kebebasan
(A. Bame,OSA)
Lirikan lagu kaka besarku “hidup ini hanya misteri [..…] yang kudamba yang kunanti tiada lain, hanya kebebasan” membuatku terus berpikir dan berharap tentang mimpi besar dari sebuah bangsa di bagian barat Pulau Papua yang dilumpuhkan oleh kesalahan besar akibat kerakusan-hasrat berkuasa dan dominasi besar segelintir orang baik pebisnis, politisi maupun tokoh agama, tokoh adat masyarakat/adat serta negara yang bermental mafia, kapitalis, oligarkis dan colonizer yang memainkan cara kotor dan keras serta jahat. Sambil memikirkan itu, aku berusaha menghubungkan dengan angka yang penuh misteri, pembawa maut, angka paling mematikan bagi bangsa Papua. Namanya angka Sembilan. Mengapa angka? Karena bahasa deskriptif, bisa saja berubah tergantung siapa yang berkuasa, siapa yang bisa berceritera banyak tetapi angka akan terus menyampaikan kepastian.
Lagi-lagi angka Sembilan. Namanya angka Sembilan. Di sepak bola, sangat penting angka ini bagi pemiliknya. Kedua, adik dari angka ini yakni angka Delapan adalah angka kesempurnaan dari orang di Asia Timur sedangkan Tujuh menjadi angka yang memiliki makna kesempurnaan dan keberuntungan, kesempurnaan penciptaan, anugerah dan berkat bagi keturunan Abraham (darah maupun iman).
Angka Sembilan membangunkan aku dari tidur panjang. Ternyata aku lahir tanggal 29 yang juga merupakan pesta Malaikat Agung, bulan Sembilan, tiga puluh enam tahun yang lalu. Angka Sembilan menyadarkan aku dari mimpi ke realitas. Angka ini menarik aku keluar dari kertas ke realitas. Angka Sembilan mengingatkan aku akan dosa lupa. Angka Sembilan mendorong aku untuk berbicara dan berbuat.
Aku bangun, melihat realitas, dan bertanya dan bertanya. Aku berpikkir dan bertanya; hidup di negeri manusia bukan mauku. Aku berada di pulau ini bukan kehendakku. Tapi aku tahu, dari awal aku diadakan, maka aku berada di sini. Dari Adam sampai Yesus, dari Adam sampai Muhamad. Dari Alfa hingga Omega aku di sini, di negeriku ini, Papua. Dari hidup sampai mati aku adalah manusia, aku sadar akan itu. Hitam kulit,keriting rambut, aku Papua menceriterakan identitas fisikku. Biarpun nanti langit terbelah, aku Papua menyatakan kesadaranku atas eksisitensi diriku yang tak dapat dibagi-dipilah, ditukar dan ditawar, ditipu dan ditiadakan.
Kembali lagi, dari Adam sampai Yesus, dari Adam sampai Muhamad. Dari Alfa hingga Omega aku di sini, di negeriku ini, Papua. Siapa yang bilang aku bukan manusia? Apalagi menyamakan aku dengan hewan tertentu. Mungkin mereka lebih dahulu berasal dari sana pula! Di sini, di tempatku, aku sungguh menikmati kelimpahan, kebebasan dan kebahagian sebelum mengenal engkau. Kedamaian dan persaudaran dengan semua ciptaan sebagi temanku. Tak ada yang kurang dan hilang dariku, terima kasih Tuhan. Tanah leluhurku sudah ada, bahasaku, busurku, atapku sudah dipakai. Aku menikmati kebahagian dan kelimpahan, merasa tak ada yang kurang.
Namun angka sembilan telah merampas semuanya dariku. Enam Sembilan buah kesombong dan kebohongan dipanen setelah beberapa tahun pembibitan yang dilakukan oleh para penjahat demokrasi dan kebebasan. Enam Sembilan aku dimasukan dengan rayuan maut dan moncong pelatuk maut. Enam Sembilan paksaan dan intimidasi mewarnai sebelum dan saat pesta rakyat yang bertentangan dengan NYA-1962 dilaksanakan. Aku harus memilih satu M dari 2M: Masuk atau Mati; Manut atau Maut. Aku diantara pilihan Lanjut atau Lepas, Lari atau Lawan, Maju atau Mundur. Enam Sembilan aku terpaksa mengakui ceritera dan membenarkan narasi bahwa aku dilahirkan premature oleh seekor burung gagah perkasa yang berbeda dan tak kukenal. Padahal induk sejatiku ialah burung surgawi. Enam sembilan kupikir, burung surgawi, ternyata burung duniawi yang tak kukenal. Betapa susah kubayangkan apa jadinya jika telur yang berbeda itu ketika diretas dan dipelihara oleh burung duniawi. Fisik-ku dan diriku serta harta kepunyaanku menjadi ancaman, keuntungan, rampasan dan hinaan mereka. Enam Sembilan aku dimasukan bukan karena diriku, bulu emasku, suara indahku, ketajaman mataku, keindahan tarianku dan kelincahkan terkaman mangsaku tetapi karena gunung emasku, tempat aku menari. Ternyata mimpi besarku sebagai sebuah bangsa dilumpuhkan oleh kesalahan besar akibat kerakusan-hasrat berkuasa dan dominasi besar segelintir orang dan negara yang bermental mafia, kapitalis, oligarkis dan colonizer yang memainkan cara kotor dan keras serta jahat.
Para penikmat gunung emasku yang dijaga jutaan tahun berpesta pora. Hanya enam kata ini yang menceriterakan tentang diri mereka: Rakus, Rekayasa, Ribut, Rebut, Rampas dan Rusak-Robek. Dari enam Sembilan aku tahu, kerakusan mendorong mereka merekayasa. Lalu merampas dan mengusai hingga merusak segalanya dariku termasuk harkat, derajat, martabat dan hak-hak. Dari enam Sembilan itu aku memberontak demi nilai-nilai hidupku, demi hak-hak personal dan komunal. Dari enam sembilan pula air mata dan darah terus mengalir.
Angka sembilan belas tahun dua ribu sembilas membuatku sadar. Aku sadar bahwa aku diperlakukan demikian, meskipun aku tidak menerima. Itu karena aku bukan dari bangsa ini, kata mereka. Bagi mereka iya memang benar, aku dari bangsa lain. Aku dari dunia lain, bangsa monyet, aku dari kaum binatang. Existensiku sebagai manusia ditiadakan oleh mereka. Pantas mereka merampas hakku, menginjak martabatku. Mereka merusak alamku, sumber hidupku. Mereka menghancurkanku dari atas ke bawah, kiri ke kanan, dari ujung kepala lewat belakang hingga ekor.
Aku takut bercampur marah tetapi tak berdaya. Aku kecewa sambil meratap tapi tak dipandang dan didengar. Pikiriku, tak ada yang lain selain melawan. Kumau berjuang untuk melawan demi membela martabatku tetapi sangat susah. Semakin aku berteriak semakin kencang serangan balik. Semakin aku berusaha semakin banyak korban berjatuhan dan semakin banyak darah yang mengalir. Perlawananku demi martabat dan hak-hak pribadi dan bangsaku hanya melahirkan ketidakadilan ke ketidakadilan, pelanggaran yang satu ke pelanggaraan yang lain. Hasil perlawananku bagaikan menangkap angin. Tetapi aku tetap berharap karena keyakinanku mengajarkan demikian.
Aku meminta bantuan, entah ke mana. Negara besar, adidaya, sangat mustahil karena ada kepentingan bisnis di sana; USA dengan Freeport di Timika, Inggris dengan BP di Bintuni, dll. Negara kecil sebangsaku, bisa membantu tetapi sejaumana komitmen dan hasrat mereka. Lebih sakit ketika saudara sebangsa menjadi pengkhianat. Musuh dalam selimut jauh lebih berbahaya daripada musuh di rumah sebelah. Aku meminta bantuan tetapi aku menjadi ragu juga karena lobby penguasa Indo sangat dahsyat juga. Jangan heran kalau negara-negara kecil sebaangsaku atau negara besar takut bicara yang benar karena mereka juga butuh duit dan proyek besar. Mereka juga pasti ada posisi dan sikap tawarnya. Aku tidak tahu kira-kira berapa juta dollar mereka dapat dari penguasa Indo. Proyek apa yang mereka dapat. Tetapi aku sadar dan yakin, perjuangan bangsaku tidak harus bergantung dan berharap pada mereka karena mereka memiliki misi sendiri untuk negara dan rakyat mereka. Aku harus kuat dan tetap berjuang.
Hanya satu yang kudambakan dan kubutuhkan yakni kebebasan. Kebebasan membawa keadilan, kedamaian bagi diriku, bangsaku. Kebebasan menjamin kebahagiaan sejati bangsaku.
Banyak jalan ke sana tetapi yang paling awal dan cocok ialah duduk bicara. Aku dan yang lain, yang berlawananan denganku duduk di para-para, honai, amah yang sama sambil buka diri, buka hati, buka mata, buka pikiran, buka masa lalu, lihat masa kini, buat rencana masa depan. Masalah bisa selesai dengan mudah, murah, meriah dan memuaskan lewat bicara dari hati ke hati, otak dengan otak bukan dengan otak dan otot, sejawat dan senjata. Masalah bisa selesai dengan cepat, tepat dan bermanfaat bersar ketika komunikasi, dialog menjadi sarana penyelesaiannya. Kita duduk bicara bukan untuk mencari tahu kesalahan, menghakimi, menghukum, menguntuk satu sama lain tetapi untuk memahami dan menyadari jantung-inti masalah, mengakui dan menerima, memaafkan dan dimaafkan, menolak yang tidak baik dan berjanji tidak mengulangi, merapatkan barisan, menyusun komitmen baru dan bergerak bersama. Maka pintu rumah, rumah diriku, rumah bangsaku, rumahmu harus dibuka. Buka. Susah kha? Apa yang susah? Tidak perlu takut sebelum berbicara. Jika dunia menutup rapat pintu dan aku menutup rapat diriku, masalah lama melahirkan masalah lama, masalah melahirkan masalah baru, masalah yang baru melahirkan masalah baru yang lain, masalah demi masalah akan terus terjadi. Mari, angka Sembilan buat kitong duduk bicara.
Athanasius Bame,OSA Anggota Biara OSA Papua
GOURA PATTISELANNO DAN JUSTINUS MARCOS SERANG
BAWAH PULANG MEDALI EMAS DALAM WORLD SCIENCE ENVIRONMENT AND ENGINERING COMPETITION (WSEEC)
UNIVERSITAS INDONESIA (17-20 JULI 2022)
Goura dan Senof(akrabnya) bersama dengan Sarah Simanjuntak dan Kezia Bustan (SMA N 1 Manokwari) dan Petrus G.C. Saiba (SMA N 2 Manokwari) adalah 5 siswa yang diseleksi dari beberapa sekolah di Kabupaten Manokwari oleh Yayasan Indonesia Sejahterah Barokah (YISB) untuk mengikuti ajang WEESC) di Universitas Indonesia (UI) pada tanggal 17-20 Juli 2022). Mereka berhasil dalam kompetisi ini dengan memboyong Medali Emas dan satu Penghargaan dari Macedonia Awards 2022. Sungguh ini merupakan suatu kebanggaan bagi Goura dan Senof juga ketiga kawan-kawannya, membanggakan orangtua serta nama sekolah menjadi viral.
Ajang kompetisi sains internasional ini adalah ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scienties Associantien (IYSA) karena melibatkan beberapa negara Asia bahkan beberapa dari Eropa. Kompetisi ini menuntut keabsahan/kemurinian dan kevalidan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peserta. Semuanya harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah pada dewan juri. Pada tahun ini (2022) rupanya ada angin segar dari Papua Barat khususnya kabupaten Manokwari. Karena para pelajar di Kabupaten Manokwari memiliki kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini. Kali ini semua penyelenggaraan ditanggulangi oleh Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah (YISB).
Goura dan kawan-kawan adalah peserta hasil seleksi dari beberapa sekolah di Kabupaten Manokwari pada bulan Juni 2022. Kurang lebih ada 37 peserta yang diseleksi oleh pak. Budi Santoso, M.Pd. Dari 37 siswa terpilihlah lima siswa sebagaimana disebutkan di atas. Ke lima siswa ini digenjot melalui pendampingan dan bimbingan kurang lebih 2 bulan, baik secara offline maupun online. Seringkali terbesit bahwa mereka sudah tidak sanggup, karena banyaknya tugas penelitian dan membuat beberapa presentasi dari hasil penelitian. Kegagalan demi kegagalan dalam penelitiannya kadang membuat mereka kendor dalam semangat, namun para pembimbing dan pendamping terus membantu dengan memberikan motivasi dan semangat untuk terus berjuang KAMU BISA. Mengingat materi penelitian mereka cukup berat, yakni membuat BARAPEN dalam bentuk kategori ilmiah. Mereka meneliti tentang Proses pembuatan BARAPEN salah satu tradisi memasak B2 dari Papua dengan rumus fisika, kimia dan biologi. Ditambah lagi bahwa presentasi terhadap hasil penelitian mereka harus disampaikan dalam Bahasa Inggris. Bagi Goura dan Justinus bahasa Inggris adalah bahasa yang telah mereka dalami kurang lebih 3 tahun ketika berada di Australia. Sehingga modal untuk berbahasa telah menjadi dasar yang kuat dalam diri mereka berdua.
Selama kurang lebih 2 Minggu Goura dan kawan-kawan mengikuti WSEEC, dan mendapatkan medali Emas juga Macedonia Awards. Pada tanggal 24 Juli 2022 mereka kembali ke Manokwari untuk membawa kabar gembira ini. Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat memberi Apresiasi bagi ke lima pelajar ini sekembalinya mereka ke tanah air Manokwari. Kepala Dinas Barnabas Dowansiba dan Kepala Bidang SMA Timotius Kambu, menyambut ke lima pelajar ini di Bandara Rendani-Manokwari. Dalam penyambutannya, ke lima pelajar ini diberikan cindramata dari Dinas Pendidikan sebagai ungkapan selamat. Kepala dinas mengatakan dalam wawancaranya yang dilansir dalam Papua Barat TV bahwa akan terus mengakomodir kegiatan-kegiatan yang menunjang SDM anak-anak di Papua Barat melalui kompetisi-kompetisi baik, lokal, nasional bahkan internasional.
Setelah penerimaan oleh dinas pendidikan di bandar udara Rendani-Manokwari, ke lima pelajar ini diarak-arak mengelilingi kota Manokwari oleh orangtua, para peserta dan pemerhati Pendidikan. Penyambutan-penyambutan di tiga sekolah diberikan kepada ke lima anak-anak ini. Teristimewah Goura dan Justinus, disambut dengan meriah oleh para pelajar SMAKVILL dengan marchingband. Ini adalah bentuk rasa syukur dan bangga dari kami sekalian atas prestasi yang diterima oleh kedua anak kami. Harapannya bahwa semoga dengan hasil yang diterima oleh Goura dan Senof, tidak membuat mereka menjadi sombong, melainkan memotivasi adik-adiknya untuk terus belajar dan bersaing. Goura dan Senof saat ini duduk di bangkus SMAKVILL kelas XII program MIPA.
Ke lima pelajar Manokwari ini didampingi oleh Pak Budi Santoso, M.Pd melalui Yayasan Terang Papua dalam persiapan selama kurang lebih 3 bulan. Goura dkk melakukan se
buah penelitian sains berkaitan dengan Barapen (yang merupakan salah satu tradisi budaya orang Papua tentang bakar batu). Mereka mencoba menjelaskan proses barapen dari sisi ilmiah dengan melakukan uji coba lab. Rupanya usaha dari ke lima pelajar ini dapat dipertanggungjawabkan dalam presentasinya kepada dewan juri. Apresiasi dan dukungan diberikan oleh para dewan juri untuk kelima pelajar hebat ini. Mereka telah dipersiapkan dengan begitu baik oleh Pak Budi Santoso, sehingga mendapatkan hasil yang baik.
WEESC yang diselenggarakan di Universita Indonesia tahun ini melibatkan 23 negara dengan 300 kelompok peserta dari jenjang Sekolah Dasar-Universitas. Kompetisi ini dilakukan baik secara offline maupun online. Pengalaman ikut dalam kompetisi WSEEC adalah pengalaman pertama yang membanggakan para pelajar dari Manokwari Papua Barat. Harapan untuk juara memang memiliki kemungkinan kecil, tetapi Tuhan berkehendak lain bahwa ke lima anak kami mampu mendapatkan Medali Emas dalam kompetisi WSEEC dan mendapat penghargaan dari Macedonia Awards. Luapan kebahagiaan, kegembiraan dan syukur menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Orang tua, Yayasan Indonesia Sejahtra Barokah (YSIB), Yayasan Terang Papua dan juga ketiga instansi pendidikan mendapatkan reword yang baik dari hasil yang diperoleh ke lima anak-anak ini. Selanjutnya, pada bulan september Goura dkk akan melanjutkan kompetisi ini di Kuala Lumpur Malaysia ditingkat yang lebih besar. Semoga hasil yang terbaik dapat mereka peroleh.
Selamat dan Sukses
#SMAKVILL UNGGUL#SMAKVILL BISA#
SA
© Copyright 2018 smaskatolikvillanova